Bagi sebahagian orang, mengucap syukur itu sangat tidak mudah. Termasuk bagiku sebelum ini. Aku melihat di bawah kolong langit ini banyak ketidakadilan, banyak kekecewaan, banyak kekacauan, banyak kejahatan, banyak kebencian, banyak penderitaan, banyak kesedihan, banyak penyakit, dan banyak kemiskinan. Anda lihat sekarang begitu kompleks alasan-alasan untuk tidak mengucap syukur? Begitulah pola pikirku selama ini.
Dulunya kehidupanku memang dekat dengan pengalaman-pengalaman itu. Maklum, aku berasal dari keluarga petani kecil, yang sejak usia kelas 1 SD sudah harus nyemplung membantu orang tua mengolah sawah orang. Kami tidak punya lahan sendiri, walau sawah yang kami olah itu milik family, tetap saja kami tak berhak menikmati semua hasil panen karena sebahagian harus diserahkan kepada pemilik lahan untuk bayar sewa. Dengan demikian anda sudah bisa tebak, bagaimana kehidupan ekonomi kami. Benar! Sangat pas-pasan. Sebegitu sulitnya sampai2, pernah kuingat guru kelasku di SD sering marah2 karena aku tidak bisa beli buku pelajaran. Namun sekarang aku sadar, bahwa saat itu aku hanya terbatas dalam hal sarana, namun tidak dalam kemampuan otak. Tuhan menganugerahkan kepadaku otak yang pandai. Itulah sebabnya teman2 yang punya buku dengan senang hati akan meminjamkan bukunya kepadaku. Dengan syarat: aku membantu mereka mengerjakan tugas pelajaran yang sulit.
Selain itu, pernah waktu itu ketika teman2 sebayaku bergembira memainkan mobil2an yang dibeli orangtuanya, aku hanya bisa gigit jari. Kuingat waktu itu, saban kali ibuku ke pasar pagi (jualan sayur, dedak, beras, entah apapun yang bisa dijadikan uang) aku sering memohon agar dibelikan mobil2an atau mainan yang lain. Namun setiap kali ibu pulang dari pasar, aku akan mendengar kata, “aduh lupa”, atau “aduh tadi toko penjual mainannya tutup”. Belakangan baru aku sadar bahwa tak mungkin setiap ibu pergi ke pasar selalu lupa akan pesananku. Atau tak mungkin setiap ibu ke pasar, toko tempat menjual mainan mobil2an selalu tutup. Ibuku hanya tidak punya cukup uang. Tapi dia tidak pernah mengatakan fakta itu kepadaku, supaya aku tidak pernah berhenti meminta dan berharap. Ibuku sadar walau ia tidak bisa membelikannya untukku, tapi aku memang berhak untuk berharap dan meminta sesuatu bagi diriku.
Kini setelah menjalani hidup lebih dari seperempat abad, baru aku melihat kehidupanku dengan cara pandang yang berbeda. Walau penderitaan, ketidakadilan, penyakit, kemiskinan, masih tetap ada di dunia ini (lihat aku tidak lagi menyebutkan kata banyak: banyak penderitaan, dsb seperti alinea 1) tapi kemampuan dan kekuatan pribadi yang diberikan Tuhan kepadaku serta KuasaNya sendiri yang setiap saat aku saksikan, mendorongku untuk dapat mensyukuri hidup. Masalah memang tak akan pernah hilang dari hidup. Tapi aku akan selalu katakan pada diriku: “Jangan lihat masalahnya. Lihatlah potensi yang ada padamu untuk menyelesaikan masalah itu. Lihatlah juga masalah itu tidak pernah menghampirimu dengan sendirian. Ia selalu membawa jalan keluar di belakang ‘badannya’.”
Akhirnya aku mau mengatakan: Thanks God, Terimakasih Tuhan, Mauliate Tuhan. Perjalanan hidupku sungguh indah *******************bersamaMU.


