Bertahankah Manusia Intrik?

Adalah kenyataan bahwa sebagus apapun kita bekerja dan melakukan sesuatu, tetap saja ada orang yang tidak suka. Namun seperti ungkapan-ungkapan di film2 Barat itu, mengenai komitmen seseorang yang memilih bertahan melakukan yang baik, agaknya  saya sangat setuju dengan mereka. Kata mereka “tak ada alasan berhenti melakukan yang baik, karena mereka yang berbuat jahat pun tak henti-hentinya melakukan kejahatan mereka”.

Pun tak semua orang di sekitar kita,  mau bersahabat dan bekerja bersama kita dengan hati tulus. Tanpa menghakimi mereka (dan tak perlu menghakimi) bahwa ada juga dari antara mereka yang membina hubungan dengan kita dengan  intrik. Ulah mereka tak jarang  menjadi ancaman bagi pekerjaan baik kita, bahkan akhir2nya mendatangkan kekecewaan bagi kita.

Waktu akan membuktikan bahwa gaya hidup dengan penuh intrik tak akan bertahan menopang sejarah dunia. Kekaisaran Romawi yang besar itu, akhirnya tumbang juga salah satunya karena banyaknya manusia yang hidup penuh  intrik. Saya juga curiga atau waspada, Gereja juga tak akan bertahan jika orang2 di dalamnya penuh intrik pula.

Jadi harus bagaimana? Saya belajar bahwa bekerja dan melakukan sesuatu yang baik dengan hati ikhlas, walau tidak mudah, itulah yang harus tetap dipertahankan. Saya belajar pula, satu orang berhati ikhlas lebih berharga dari seribu orang berhati intrik.  Orang2 berhati intrik ini sangat berbahaya. Tapi mereka tak perlu ditakuti secara berlebihan. Dengan hadirnya pribadi2 berhati ikhlas, orang2 berhati intrik itu tidak akan berhasil dengan segala rancangan dan kepentingan busuk mereka.  Anggap saja orang2 intrik di sekitar kita itu sebagai penguji atas kesetiaan kita menggunakan hati ikhlas dalam melakukan segala kebaikan. Semangatlah wahai orang2 yang berhati ikhlas.

Tentang Aldemak Simanjuntak

Saya adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara yang lahir tanggal 7 April 1983, di desa Pasar Baru, Kecamatan Dolok Panribuan, kabupaten Simalungun, provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Tahun 1989 sudah duduk di bangku SD kelas 1, dan tamat tahun 1995 dari SDN No 091479 Dolok Marlawan. Melanjut ke SLTP Negeri 1 Tiga Balata dan selesai tahun 1998. kemudian melanjutkan sekolah di SMK Negeri 2 Pematang Siantar Jurusan Elektronika dan selesai tahun 2001. Sesudah menyelesaikan sekolah di sekolah kejuruan, saya bukannya kuliah memperdalam jurusan, dan bukan pula langsung cari kerja. Ada satu kuasa di luar diri saya yang mengarahkan aku untuk kuliah di STT HKBP P. Siantar. jadilah tahun 2001, saya kuliah di Sekolah Pendeta P. Siantar, setelah HKBP rekonsiliasi. Tamat dari STT HKBP P. Siantar tahun 2006 awal, dan ditahbiskan menjadi pendeta Mei 2008 di HKBP Parparean Porsea. Sebelum ditahbis menjadi pendeta, sebelumnya menjalani mas praktek selama 2 tahun di HKBP Perumnas Batu Onom, Kab. Simalungun. Kini melayani sebagai pendeta di HKBP Taman Adiyasa, Ressort Serpong, Distrik XXI Jakarta 3.
This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.

4 Responses to Bertahankah Manusia Intrik?

  1. alfred hutagalung says:

    tetaplah menjadi seorang gembala yg baik,… berpegang teguh pada prinsip & pendirian yg dimiliki,…

  2. baktijsitumorang says:

    Semangat panditanami,
    maju trus orang yang tulus..

  3. boas sianturi says:

    tibu do hubolus on amang.. baru komen saonari. leleng asa adong muse siboluson, sai pinamanat do nian!

  4. Kimseng Manurung says:

    Horas Pandita nami , Tetap semangat dan Iklas dalam pelayanan adalah salah satu ciri dari Gembala yang baik.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s