Belajar Dari Penderitaan!

Harus saya akui, topik ini tak mudah untuk dibahas. Menurut saya, butuh kesiapan spiritual seperti Yesus untuk dapat memahaminya; atau paling tidak spiritualitas seperti Paulus atau Rasul2 lain yang memang memiliki pengalaman mendalam mengenai penderitaan. Oleh karenanya saya tidak akan membahas topik ini secara terperinci. Hanya bagian yang ringan saja. Ya, sekedar konsumsi untuk pikiran relaks dan enteng saja.

Manusia normal, terutama di jaman sekarang sangat mendambakan kebahagiaan, kenikmatan dan ketenangan hidup. Kalau perlu semua tenaga dan pikiran akan dikerahkan demi mencapai kebahagiaan, kenikmatan dan ketenangan tadi. Barangkali adalah tidak normal jika ada orang yang menginginkan penderitaan dalam hidupnya. Namun tak bisa dipungkiri pula, di dunia ini yang namanya penderitaan masih belum bisa lepas sepenuhnya dari hidup manusia. Sebagai manusia berakal, bermoral, apalagi beriman, kita tentu tidak akan memilih jalan penderitaan (jika memang pilihan itu ada dan ditawarkan kepada kita). Namun walau tak kita pilih, tetap saja penderitaan suatu saat akan menghampiri dan menyerang kita. Kita tak bisa menolaknya. Sekuat apapun manusia melawannya, penderitaan itu tak akan pernah benar2 hilang dari hidup di dunia. Belajar dan menjadi bijak melalui penderitaan, barangkali merupakan sikap yang paling tepat saat menghadapi penderitaan.

Per-tama2, saya persempit dulu penderitaan mana yang saya maksud. Yaitu penderitaan yang lahir bukan karena kesalahan atau kelalaian atau keonaran diri sendiri. Jadi murni penderitaan yang saya maksudkan adalah penderitaan yang muncul karena sengaja dikenakan orang lain kepada kita, atau karena proses alamiah, atau akibat konsekuensi dari sebuah perbuatan yang baik/benar (bukan jahat).

Mudah sekali bagi kita jatuh dan putus asa ketika harus mengalami penderitaan yang terjadi bukan karena kesalahan kita. Kerap kali kita jatuh pada sikap yang buruk, ketika menghadapi hal semacam itu. Namun alangkah baiknya jika kita mampu belajar menjadi lebih baik, kala penderitaan itu mucul. Apa yang bisa kita pelajari? 1. Memuji Tuhan dalam penderitaan. Tidak mudah melakukannya. Namun perlu diingat, bahwa salah satu tanda kemurnian iman kita pada Allah, adalah ketika kita sanggup dan bersedia memuliakanNya dalam segala hal, terutama dalam penderitaan. Butuh iman yang tangguh untuk dapat memuji Allah saat sedang menderita. Jadi dalam penderitaan kita bisa belajar meneguhkan dan memurnikan iman kita kepada Allah. 2. Menantikan penghiburan Tuhan. Bagaimana sih rasanya dihibur oleh Tuhan? Dihibur oleh artis, kita sudah tahu rasanya. Dihibur oleh badut, pemain sirkus, penyanyi, pelawak, tetangga, teman, dsb, barangkali juga sudah pernah kita rsakan. Tapi penghiburan dari Tuhan, tak semua orang bisa merasaknnya. Hanya orang yang menderita, dan berseru pada Tuhan, itulah yang bisa merasakan penghiburan Tuhan. Jadi dalam penderitaan, kita bisa belajar mengenal dan menerima penghiburan Tuhan. 3. Ketabahan. Jujur, bahwa ketabahan bukanlah barang murahan yang bisa kita temukan di sembarang tempat. Tak semua orang memiliki karakter ini. Padahal kemuliaan seorang manusia salah satunya ditentukan oleh sifat ketabahan ini. Jadi dari penderitaan kita belajar untuk tabah. 4. Pengharapan. Dalam penderitaan kita bisa belajar untuk tetap memelihara dan menyalakan api pengharapan. Pengharapan itu adalah kekuatan yang memberanikan kita untuk menatap jauh ke masa depan. Pengharapan adalah cahaya kita untuk menuju masa depan yang lebih baik. Yang punya pengharapan akan punya semangat dan kekuatan untuk terus maju. Pengharapan itu dipacu sinarnya ketika menghadapi penderitaan.

Seraya berjuang sedaya mampu melewati penderitaan, janganlah lupakan pelajaran2 penting itu. Mudah2an, masa sulit itu segera berakhir, lalu kita semakin siap untuk masa2 sulit berikutnya. Terus belajar , lagi, lagi dan lagi…..selama hayat dikandung badan. Tuhanlah yang menguatkan.

Tentang Aldemak Simanjuntak

Saya adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara yang lahir tanggal 7 April 1983, di desa Pasar Baru, Kecamatan Dolok Panribuan, kabupaten Simalungun, provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Tahun 1989 sudah duduk di bangku SD kelas 1, dan tamat tahun 1995 dari SDN No 091479 Dolok Marlawan. Melanjut ke SLTP Negeri 1 Tiga Balata dan selesai tahun 1998. kemudian melanjutkan sekolah di SMK Negeri 2 Pematang Siantar Jurusan Elektronika dan selesai tahun 2001. Sesudah menyelesaikan sekolah di sekolah kejuruan, saya bukannya kuliah memperdalam jurusan, dan bukan pula langsung cari kerja. Ada satu kuasa di luar diri saya yang mengarahkan aku untuk kuliah di STT HKBP P. Siantar. jadilah tahun 2001, saya kuliah di Sekolah Pendeta P. Siantar, setelah HKBP rekonsiliasi. Tamat dari STT HKBP P. Siantar tahun 2006 awal, dan ditahbiskan menjadi pendeta Mei 2008 di HKBP Parparean Porsea. Sebelum ditahbis menjadi pendeta, sebelumnya menjalani mas praktek selama 2 tahun di HKBP Perumnas Batu Onom, Kab. Simalungun. Kini melayani sebagai pendeta di HKBP Taman Adiyasa, Ressort Serpong, Distrik XXI Jakarta 3.
This entry was posted in OPINIKU. Bookmark the permalink.

One Response to Belajar Dari Penderitaan!

  1. fe says:

    Belajar dari penderitaan,memang penderitaan tak lepas dari hidup manusia. termasuk saya tapi bagaimana cara kita menyikapi hidup kita sendiri pendeta? sekuat apapun aku butuh juga dukungan dari orang lain (doa). Karena doa orang benar besar kuasanya. Disamping kita sendiri harus mampu untuk bertahan dan bersyukur,seperti sekarang inilah…………….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s