Pandangan Dangkal Pendeta Muda

Istri Yang Ideal bagi Pendeta

Ha…ha…ha… agak geli rasanya ketika harus menulis topik ini. Mengapa? Karena saya membayangkan barangkali orang-orang akan “menuduh” saya sedang terdesak ingin segera menikah. Tapi tak apa-apalah…saya lawan saja rasa geli itu, tokh saya juga punya pengamatan (subjektif) perihal macam-macam karakter dan bentuk perempuan yang telah menikah dengan senior-senior saya. Lagipula, sewaktu mahasiswa dan menjalani masa praktek, kami sering kok bersama teman-teman saling mengutarakan harapan dan impian mengenai pendamping kami kelak. Saya juga pernah koq bercerita iseng dengan beberapa jemaat di tempat yang berbeda mengenai topik ini. Maka dengan dasar itulah, saya beranikan juga untuk menulis topik ini sejauh yang bisa saya bayangkan, saya lihat, saya dengar, saya pikirkan dan saya pergumulkan. Tapi mohon maaf, tanpa bermaksud mendiskreditkan kakak senior dan teman-teman pendeta perempuan, tulisan ini barangkali lebih ingin berbicara tentang pendeta laki-laki dengan istri/calon istrinya. Karena menurut saya, pendeta perempuan punya “pertimbangan” yang berbeda dengan pendeta pria dalam memilih pendamping hidup, atau bahkan mereka harus lebih bergumul dalam hal ini. Berikut ini beberapa catatan mengenai istri pendeta yang ideal, sekali lagi: sesuai dengan apa yang pernah saya bayangkan, saya lihat, saya dengar, saya pikirkan dan saya pergumulkan.

Satu: Istri yang bekerja dan memiliki penghasilan untuk mendukung kebutuhan keluarga. Kebanyakan pendeta laki-laki termasuk saya, barangkali punya pertimbangan ini untuk menentukan pasangan ideal. Sejauh yang bisa saya tangkap dan analisa, jika istri pendeta bekerja dan punya penghasilan tetap, si pendeta bisa lebih fokus pada pelayanan tanpa harus dibebani oleh kekuatiran tidak terpenuhinya biaya hidup karena balanjo (gaji) yang minim. Mungkin penilaian miring terhadap seorang pendeta atau perbuatan miring seorang pendeta yang menggelapkan uang gereja akan berkurang dengan hadirnya seorang istri yang berpenghasilan tetap. Sebagai seorang pendeta, saya selalu berfikiran positif mengenai pendeta. Menurut saya tidak ada pendeta khususnya di HKBP, yang benar-benar mata duitan, atau secara sengaja menggelapkan uang gereja dengan motivasi untuk memperkaya diri. Kebanyakan penyelewengan penggunaan uang gereja oleh pendeta, disebabkan oleh kebutuhan hidup yang mendesak. Walaupun memang alasan kebutuhan yang mendesak tetap tidak bisa ditolerir bagi seorang pendeta untuk melakukan penyelewengan. Sebagai seorang pendeta laki-laki yang belum menikah, tentu saya tidak ingin menjadi pendeta yang menyelewengkan uang gereja kelak, karena kebutuhan yang mendesak. Demikian juga dengan pendeta yang lain, saya pikir. Dengan kondisi yang demikian, memilih pasangan hidup yang bekerja dan berpenghasilan tetap barangkali akan sangat memuluskan sang pendeta dalam menjalankan tugasnya mewartakan Kerajaan Allah. Dasar lain yang barangkali juga perlu dicatat, mengapa seorang pendeta memilih pasangan hidup yang bekerja, adalah keinginan seorang pendeta (sebagaimana lazimnya manusia biasa) membentuk sebuah keluarga yang bahagia, tercukupi sandang, pangan, perumahan, pendidikan, dan jaminan kesehatan bagi keluarga, secara khusus bagi anak-anaknya kelak. Pendeta HKBP khususnya, yang sudah mengetahui berapa jumlah balanjo yang ia terima setiap bulan, saya pikir wajar berusaha untuk mendapatkan pasangan hidup yang mampu menolongnya mewujudkan impiannya, agar kelak anak-anaknya bisa mendapatkan makanan bergizi, bisa sekolah secara wajar, dan bisa berobat kala sakit. Untuk mewujudkannya, saya dan teman-teman yang lainnya pernah membuat daftar pekerjaan yang cocok untuk istri seorang pendeta menurut kami, diantaranya : dokter (PNS :Pegawai Negeri Sipil dan PTT :Pegawai Tidak Tetap), Bidan khususnya bagi pendeta yang melayani di ibu kota kabupaten, kecamatan, dan pedesaan (PNS dan PTT). Berikutnya adalah perawat di Rumah Sakit, Guru (PNS dan swasta), Pegawai Kantor Pemerintahan, Pegawai Bank, Wiraswasta. Yang memilih Polisi Wanita, atau Tentara Wanita, ada gak ya?… Atau bagaimana pulak dengan Petugas Pemadam Kebakaran? Namun untuk mendapatkan pasangan hidup yang demikian juga tidak gampang bagi seorang pendeta HKBP. Selain persaingan yang ketat dengan pemuda lain yang lebih sukses, ada persoalan urgen yang muncul bahkan ketika ia telah mendapatkan pujaan hati dengan profesi seperti di atas: mutasi (perpindahan). Pendeta HKBP melayani di satu tempat untuk satu periodenya adalah 4 tahun. Bisa lebih dari 4 tahun jika pelayanannya bagus dan jemaat mempertahankannya, tetapi bisa kurang dari 4 tahun jika jemaat tidak menyukainya karena pelayanan yang kurang baik. Dengan adanya mutasi ini, seorang pendeta yang beristrikan seorang PNS atau profesi lain yang terikat pada satu tempat, akan diperhadapkan dengan berbagai keadaan sulit. Antara mengurus perpindahan tugas istri, mengurus perpindahan pendeta yang bersangkutan agar tetap dekat dan bisa serumah dengan istri, atau mengikuti mutasi sewajarnya tetapi harus jauh dari istri dan anak-anak, atau bahkan merelakan sang istri melepaskan pekerjaannya, demi mendampingi suami. Bagi saya, semua ini benar-benar adalah perjuangan besar bagi pendeta, dan salut buat senior saya yang secara bijak dan arif serta penuh pengorbanan menjalankan tanggungjawab sebagai pendeta dan sebagai kepala keluarga sekaligus.

Pada akhirnya, saya berkesimpulan memilih pendamping yang memiliki penghasilan tetap, memang baik untuk pendeta, sekalipun banyak juga kesulitannya. Dengan kejujuran, tanggungjawab secara adil, dan kebijaksanaan, biarlah para pendeta, termasuk saya kelak dengan seijin Tuhan, dikuatkan melewati pilihan hidup yang demikian.

Tapi banyak juga pendeta yang menikahi wanita yang tidak bekerja dan tidak punya penghasilan tetap. Ini juga adalah pilihan hidup. Asalkan pendeta dan sang istri bukan pemalas dan bukan pemboros, keluarga pendeta yang memilih jalan ini, bisa juga koq mendapatkan kebahagiaan. Sampai saat ini dan seterusnya saya yakin akan kuasa Tuhan yang mencukupkan kebutuhan hamba- hambaNya. Namun selain berkeyakinan yang demikian, khan masih ada yang bisa dilakukan?

Dua: Istri yang Cantik dan menarik secara fisik.

Diantara teman-teman satu stambuk, khan sudah ada tuh yang memilih menikah saat kuliah. Nah, pertanyaan yang rame dilontarkan oleh teman-teman (termasuk saya) ketika itu adalah: gimana istrinya, cantik ‘nggak?Jika dipikir-pikir sih, perlu juga seorang pendeta memiliki istri yang rupawan dan menarik. Alangkah bahagianya seorang pendeta disambut di rumah oleh istri dengan senyum yang menawan, setelah baru saja berhadapan dengan perdebatan alot di sermon atau pada rapat jemaat. Cantik dan menarik secara fisik memang perlu, tapi sang pendeta harus tetap hati-hati terhadap kecantikan yang menipu. Apalagi kelak setelah menikah dengan wanita cantik, rumah pendeta tersebut selalu rame dikunjungi oleh teman-teman pendeta dan sintua. (gak sampai githu kale…)

Tiga: Istri yang sederhana, sopan, berpendirian, bersih, pintar menempatkan diri, sabar, dan karakter positif lainnya.

Saya yakin, dari sudut pandang jemaat, akan lebih banyak yang setuju jika dalam memilih pasangan hidupnya pendeta lebih berfokus pada penilaian ini. Ya, saya juga setuju, dan memang harus demikian.

Empat: Istri yang kita Cintai dan Mencintai Kita

Cinta, merupakan satu-satunya kekuatan yang mampu membuat ikatan perkawinan tetap berdiri kokoh. Seorang pendeta akan bahagia hidup bersama dengan wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang diperolehnya dengan perjuangan keras karena cintanya yang besar. Pendeta sangat berbahagia memiliki istri yang mencintainya apa adanya. Inanta ni Pandita yang tetap mencintai suaminya, walapun harus hidup dengan pendeta yang kehidupannya sangat sedarhana. Yang tetap bisa memahami dan menerima sang pendeta sekalipun terkadang harus ditinggal sendiri di rumah karena tugas; yang tetap tersenyum tulus sekalipun sang pendeta pulang ke rumah dengan wajah lusuh; yang tetap bisa menyekolahkan anak-anaknya sekalipun dengan keadaan keuangan yang minim.

Lima: Istri yang pintar mengajar koor dan memainkan organ gereja.

E…eehhhh. Itu zaman dulu kale…. Tapi banyak juga loh jemaat yang mengharapkan kehadiran inanta ni Pandita yang demikian. Gak apa-apalah, bisa jugalah itu. Tapi hati-hati, awas terjadi perebutan lahan dengan mama-mama yang lain, apalagi dengan sesama pelayan.

Jangan menilai tulisan saya ini sebagai suatu bentuk kesombongan atau perfeksionisme dari seorang pendeta HKBP. Karena Pendeta juga adalah manusia yang tidak sempurna. Yang saya mau katakan adalah salut buat teman-teman dan abang-abang senior yang sudah menemukan pilihan hatinya. Saya doakan semoga tetap bisa mempertahankan kebahagiaan dalam kesulitan apapun sebagai pendeta HKBP. Bagi yang belum menemukan pasangan ideal, selamat berpetualang.

Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.(Amsal 31: 30)

 

About these ads

7 Balasan ke Pandangan Dangkal Pendeta Muda

  1. fe mengatakan:

    syalom
    baru hari ini saya agak lumayan, bbrp hr KO, mual trus tak sanggup didpn kmptr lm-lm. wah …. bagus yakc menilai calon, ngomong” dah dapat…disitu, tentu keren d beken dll.
    kudoain yap…… bagus selalu…………………. amen.
    salom

  2. murid Jesus Christ mengatakan:

    Salam kenal !

    Bagus juga kriterianya, semoga cepat dapat . Karena umumnya jemaat di gereja kami menganggap belum jadi pendeta sepenuh nya apabila belum punya istri . Dengan kata lain, akan selalu dianggap sebagai Capen, kalau masih doli-doli .

    Ada satu nasehat dari Alkitab ( maaf saya lupa ayatnya ) sbb : ” Carilah pasangan yang seimbang ”

    Shalom !

  3. jhons mengatakan:

    Horas Pak Pandita. Jadi molo itonta i, na di huta i, nga boi soksok hirahira naeng gabe inanta pandita, Hehehehe.
    Lului jo lo di ahu bah, di son mangapian do au.
    Ndang adong na olo tu ahu. Sai sahat ma angka sintasintata sasude. Tonggo naeng mangoli, andigan ma pandita i?

    • Aldemak Simanjuntak mengatakan:

      Horas laeku. Mudah-mudahanma boi bertahan dohot na di huta i lae. Kalau masalah mangoli, kukabari pun ntar sama lae dan teman2 H2O. Sukses juga buatmu lae. NB di jemaatku sepi muda-mudinya lae. Gak ada keknya yang cocok buat lae.

  4. mudut mengatakan:

    ido ate….
    mantap do bah kriteriami pra…
    ale porlu do nina rohangku adong prioritas utama.
    molo pe ingkon mamilit na pasti mamilit demi “sahat ula tohonanmi”.
    alai baen ma jo pandanganmu mamereng realitas di hurianta…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: