29/01/2010
Berharap terlalu banyak kepada manusia, suatu saat kita akan kecewa. Berharap kepada teman dekat sekalipun, tak menjadi jaminan bahwa kita bakalan tak kecewa. Dalam perjalanan hidup, kita pasti akan merasakan kekecewaan. Lantas bagaimanakah sikap seharusnya?
Berharap tentu tak salah. Takut kecewa lalu tak memiliki pengharapan juga bukanlah tindakan benar. Dalam kaca mata iman kita yakini bahwa yang terbaik adalah berharap kepada Allah. Ia tidak akan mengecewakan kita. Tapi berharap kepada manusia juga tak dilarang. Hanya saja kita membutuhkan kesadaran dan keikhlasan untuk memahami bahwa tak semua harapan kita bisa jadi kenyataan. Terutama jangan sampai memaksa orang untuk mewujudkan harapan kita.
Kekecewaan, paling sedikit timbul dalam diri kita karena kita merasa diberlakuan tidak sesuai dengan yang menurut kita harusnya kita diberlakukan. Betapa tersiksanya seseorang jika ia yang seharusnya tidak perlu merasa kecewa, akhirnya menjadi kecewa karena kurang arif mengelola perasan. Biasanya orang seperti ini adalah orang-orang yang susah membangun pikiran positif bagi dirinya sendiri.
Adakah obat kecewa? Ada! Diri kita sendiri. Kekecewaan dalam diri kita paling memuncak biasanya terjadi saat kita dikhianati dan ditinggal pergi orang terkasih. Sadarlah segera bahwa ketika mereka mengkhianati dan meninggalkan kita, itu artinya bahwa mereka telah menunjukkan ketidak-layakan mereka sebagai orang terkasih bagi kita. Kalau begitu siapa lagi yang layak untuk kita? Banyak. Pertama, masih banyak orang yang hatinya setia dan layak menjadi orang terkasih kita. Yang penting ketulusan, kebaikan, dan nilai positif yang ada pada diri kita tetap kita pertahankan. Kedua, matahari. Selagi matahari masih setia memberi kehangatan kepada kita, itu artinya masih ada alasan untuk tidak kecewa. Ketiga, langit yang menaungi kita. Selama langit belum runtuh, selama itu pula kita berhak untuk tidak kecewa. Masih banyak lagi yang bisa kita jadikan sebagai pengobat kekecewaan kita. Selama kita mau berpikir positif, dan menyikapi segala yang terjadi dengan hati jernih, maka kekecewaan itu tidak akan pernah melumpuhkan kita.
Leave a Comment » |
OPINIKU |
Permalink
Posted by Aldemak Simanjuntak
26/01/2010
Raja Belsyazar anak Nebukadnezar (Raja Babel), mengadakan perjamuan besar-besaran di istana kerajaan. Mereka berpesta pora dan mabuk-mabukan. Dalam keadaan mabuk, Belsyazar memerintahkan kepada anak buahnya agar perkakas emas dan perak yang dirampas dari Yerusalem (perkakas yang biasa dipakai ibadah di Bait Suci Yerusalem oleh orang Israel) digunakan sebagai wadah minuman yang memabukkan oleh raja, pembesar2, istri2 dan gundik2 mereka. Bagi mereka, tindakan itu adalah suatu kebanggaan. Tapi bagi Tuhan itu adalah suatu kebodohan karena menista Tuhan. Kebodohan seperti itu akan dibalas oleh Tuhan sendiri.
Lalu tampaklah jari tangan manusia menulis pada dinding istana. “Mene, mene, tekel ufarsin”. Raja tidak tahu arti tulisan itu, dan orang2 berkhikmad di negeri itupun tak seorangpun yang tahu. Sampai akhirnya datanglah Daniel dan mengartikannya kepada raja. Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri. Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan. Ufarsin (peres): kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia. Malam itu juga terbunuhlah Belsyazar. (Daniel 5: 1-30)
Berapa bobot anda? Bobot anda tidak selalu sesuai dengan apa yang orang lain katakan mengenai yang anda kerjakan dan anda capai. Di hadapan orang banyak, Belsyazar adalah orang yang paling disegani dan dihormati. Bobot hidupnya dianggap paling tinggi oleh banyak orang. Tapi bagi Tuhan bobot Belsyazar sebagai raja, terlalu ringan.
Demikianlah bahwa bobot anda adalah apa yang dikatakan oleh hati anda sendiri, dan apa yang dikatakan Allah mengenai apa yang anda kerjakan dan anda capai. Bobot tertinggi dari hidup orang percaya adalah melayani Kristus dengan hidup dalam kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Rom 14: 17-18).
Leave a Comment » |
Renungan |
Permalink
Posted by Aldemak Simanjuntak
26/01/2010
Hidup adalah misteri. Selama kita hidup di dunia, akan selalu ada pertanyaan2 yang belum terjawab mengenai kehidupan, yang walaupun sudah banyak pula yang telah kita ketahui.
Manusia juga adalah misteri. Banyak bagian dari diri manusia itu yang tak bisa diketahui hanya berdasarkan penglihatan dari luar saja. Pikiran, perasaan, tingkah laku, gaya bicara seseorang, tak mudah ditebak apalagi diketahui secara pasti oleh orang lain. Oleh karenanya sangat tidak baik menilai orang lain hanya dari penampilan luar saja, apalagi sampai memperlakukannya seturut dengan penilaian kita tersebut. Butuh waktu yang cukup lama dan energi yang tidak sedikit untuk mendalami, mempelajari, dan mengenali seseorang. Ibarat sungai, danau, dan laut, keindahannya tak bisa disimpulkan hanya dengan melihat permukaannya saja.
Selamilah, kenalilah lebih dalam, maka akan kita temukan bahwa hidup itu sangat berharga. Selanjutnya hargailah semua yang hidup, sehingga kita sendiripun tak lagi dikuasai oleh kepicikan. Kita akan berbahagia hidup bersama dengan yang lain.
Leave a Comment » |
OPINIKU |
Permalink
Posted by Aldemak Simanjuntak
01/01/2010
SEMANGAT BARU, HARAPAN BARU, MOTIVASI BARU. SEMAKIN MENGARAHKAN DIRI MENUJU HIDUP YANG LEBIH BAIK. TUHAN MENYERTAI KITA SELALU, SAMPAI SEPANJANG MASA.
RENUNGAN:
Matius 14: 27 b “Tenanglah! Aku ini, jangan takut”
Nats ini adalah penggalan kisah Yesus yang berjalan di atas air. Setelah para murid2 melihat Yesus melakukan mujizat memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan, mereka kembali menyaksikan kuasa Yesus yang spektakuler dengan berjalan di atas air. Kisah ini berawal saat para murid berlayar tanpa Yesus. Tiba2 saja perahu mereka diombang-ambingkan angin Sakal. Dalam keadaan terombang-ambing tersebut, mereka melihat sebuah sosok berjalan diatas air menghampiri mereka. Read the rest of this entry »
2 Comments |
Renungan |
Permalink
Posted by Aldemak Simanjuntak
01/01/2010
ACARA PEMAKAMAN
——————————-
JUMAT 1 JANUARI 2010
ACARA DI JABU
1. MARENDE BE NO 340: 1 “ Hamu Saluhut Halak”
Tibu ma ro tingkingku Lao bongot tu bagashu Di hasonangan i Hamuna natorashu Ndang jadi andunganmu Au na Manopot Surgo i
Jempek tutu ngolungku Dumenggan do jambarhu Na sian Debata. Ndang songgop be sahithu ndang tubu be arsakku Las rohangki sambing nama Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Renungan |
Permalink
Posted by Aldemak Simanjuntak